re-post, kontemplasi
ketika kau merasa tak bisa berpijak pada apapun dan siapapun,
maka merenung dan menyendiri adalah pilihan terbaik
karena…….
terkadang riuh tak selalu indah dan sunyi tak selalu menakutkan
ketika kau merasa tak bisa berpijak pada apapun dan siapapun,
maka merenung dan menyendiri adalah pilihan terbaik
karena…….
terkadang riuh tak selalu indah dan sunyi tak selalu menakutkan
Akhirnya hari-hari ini, bulan-bulan ini datang juga. Dulu saya pernah berfikir, bahkan sangat bersyukur dengan semuanya, dengan jalan hidup yang diberikan oleh Allah, begitu dimudahkan dan dilancarkan dalam segala hal.
Kadang ada ketakutan bahwa itu semua akan berakhir, suatu saat nanti, karena sesuatu yang berawal pastinya ada akhirnya. Dan ternyata masa itu datang juga, akhir dari semuanya, meninggalkan semua kenyamanan yang selama ini terlewati.
Saat ini, hari-hari ke depan, akan terisi oleh hari-hari penuh kerja keras, tantangan dan, rintangan, dengan semua kondisi dan keadaan yang jauh dari kata ‘enak’ dan kata ‘nyaman’. Harus kuat, bertahan pada semua, karena hidup tidak selalu enak, hidup tidak selalu nyaman, hidup tidak selalu indah
Berharap dapat terus bertahan, sampai merasa tak kuat dan akhirnya harus menyerah pada situasi dan kondisi yang terjadi. Semoga sebelum semua itu terjadi ada tangan-tangan Tuhan yang bergerak dan mengusir semua ketaknyamanan ini.
Akhirnya, selesai juga saya membaca novel terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi. Sama seperti ketiga novel sebelumnya, di novel terakhirnya, gaya bercerita Andrea tetep seperti sebelum-sebelumnya, cerdas, metaforik, dan dekat dengan ilmu pengetahuan yang kesannya tidak menggurui.
Puas rasanya telah mengkhatamkan ke-4 mahakarya itu. Walaupun di karya terakhirnya ini Andrea tidak begitu bisa membuat saya tertawa dan kemudian tiba-tiba menangis oleh ceritanya, tapi bahwa setiap saya membaca ceritanya, kemudian seperti dibuat membaca kamus ilmu pengetahuan itu tidak hilang di karya terakhirnya. Merasa diajak untuk berfikir dan “tahu” tentang sesuatu hal, entah itu tentang sosiologi, astronomi, geografi, atau bahkan fisika yang sejujurnya saya tidak begitu suka, itu tetap muncul di maryamah karpov. Dengan terbawa alur ceritanya, menyelami apa yang terkandung di dalamnya membuat saya menjadi selalu ingin belajar tentang banyak hal, bahkan hal-hal yang dulunya tidak saya sukai. Bagaimana Andrea bisa menggabungkan dan meramu semua unsur Ilmu pengetahuan (sains), menuangkannya menjadi sebuah cerita yang utuh, menarik, dan selalu berbobot, itu yang selalu membuat saya terkagum-kagum dengan hasil karyanya.
Akhirnya, karya masterpieces itu telah selesai juga dilahirkan. Menambah kaya khasanah budaya di Indonesia. Semoga akan banyak novel-novel berkualitas yang lahir dari hasil karya anak bangsa (tidak hanya novel saduran dari luar negeri saja yang laris di pasaran)
Ini tentang film Laskar Pelangi yang baru saja diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Banyak orang yang ternyata walaupun tidak pernah membaca novelnya, ketika melihat filmnya menjadi suka dan ngefans juga dengan para tokoh dalam cerita tersebut.
Beberapa kali melihat blog teman, banyak juga yang ternyata tidak begitu menyukai novel karya Andrea Hirata, kenapa ya?mmmh, kalau itu emang balik lagi ke personal tiap orang.
Di sini saya hanya ingin bercerita sedikit, mencoba berbagi kepada semua tentang kenapa saya begitu mengidolakan tetralogi novel ini. Dulu, saya pertama kali membaca novel Laskar Pelangi juga sebenarnya dengan tidak disengaja. Ada seorang teman kakak saya yang meminjamkan buku itu ke saya.
Buku pertama yang saya baca adalah Laskar Pelangi itu sendiri, kemudian dilanjutkan dengan buku ke-2 (Sang Pemimpi) dan buku ke-3 (Edensor). Membaca buku ke-1 Laskar Pelangi, terus terang saya kurang berminat meyelesaikannya (bener juga kata teman2, hihi :p). Tapi akhirnya selesai juga dalam waktu hampir 2 mingguan. Buku pertama memang alurnya sangat tidak karuan, meloncat-loncat, bahkan kadang saya tidak mengerti di mana sebenarnya masa ketika cerita itu disampakan dalam bab tertentu. Di luar itu semua, saya tidak begitu mempermasalahkan tentang banyaknya dialog atau narasi dalam sebuah cerita atau novel yang saya baca. Banyak orang berkata bahwa novel yang baik adalah novel yang tidak hanya berupa narasi saja, tetapi juga banyak dialog-dialog di dalamnya, karena itu yang sulit. Bagi saya, sejauh saya bisa menikmati novelnya, dan saya enjoy membacanya, nothings problem with that story.
Dalam novelnya Andrea Hirata memang tidak banyak menampilkan dialog-dialog yang bisa memberikan poin plus untuk hasil karyanya, tetapi dengan tema dan latar cerita yang dia ambil, itu semua bisa menutupi semua kelemahan/kekurangan dalam novelnya.
Buku ke-2 dan ke-3 selesai saya baca tidak lebih dari 3 hari. Saya begitu terpesona dengan cara penyampaiannya dalam bercerita, dan pilihan kata-katanya dalam tiap kalimat yang di susun menjadi sebuah cerita yang utuh dalam sebuah novel. Dengan diiringi alur cerita yang semakin jelas (tidak lagi meloncat-loncat), melengkapi kesempurnaan kedua novel itu. Satu lagi, “tema”, yup!tema yang diusung di 2 novel tersebut adalah tema yang sangat menarik untuk diikuti, dinikmati dan dipelajari tiap bagian ceritanya. Persahabatan, Pengabdian, dan Cita-cita, tema yang sangat jarang dipakai oleh para penulis hebat jaman sekarang (setahu saya sih, hehe). Gaya Andrea bercerita dan penyampaian yang tidak menggurui membuat saya sangat kagum dengan pilihan kata yang merangkai kalimat dalam novelnya.
Sekarang, setelah buku pertamanya (Laskar Pelangi) selesai diflm-kan, banyak orang yang tertarik untuk memfilm-kan novel ke-2 dan ke-3nya. Dan saya yakin, pasti juga akan banyak orang yang menyukai cerita-ceritanya walaupun tidak membaca novelnya tetapi hanya denga melihat filmnya. Salute for him!
Beberapa hari kemarin sebenarnya agak sedikit kecewa melihat beberapa tayangan gosip di TV yang bilang kalau dia pernah menikah dengan seorang janda dan tidak mau mengakuinya. Terlepas dari itu semua, saya tahu seorang Andrea Hirata adalah manusia biasa yang pernah melakukan beberapa kesalahan dalam hidupnya. Saya, hanyalah seorang pengagum karyanya, sejauh dia masih brillian dalam karya-karyanya (novel terutamanya), maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengidolakannya sebagai salah satu penulis novel terbaik di Indonesia.
Berbicara tentang tetralogi Laskar Pelangi, kapan ya novel ke-empatnya bakal launching?? Maryamah Karpov kapan kau akan lahir??!!udah ga sabar nih… (hehe, keliatan napsu banget). Hope it’ll be available at the bookstore as soon as possible! :-).
Tanggal 25 Oktober 2008 kemarin sekali lagi saya melihat acara yang masih berkaitan dengan Eagle Award - Hijau Indonesiaku di Metro TV. Ternyata acara itu adalah malam penganugerahan pemenang Eagle Award untuk semua kategori yang dilombakan.
Entah suatu kebetulan atau apa, yang lebih mengejutkan adalah 2 film yang secara tidaksengaja sata lihat 2 minggu sebelumnya memenangi 2 kategori dari beberapa kategori yang dilombakan…kereeennn!:-D. “Buah yang Menunggu Mati” menjuarai untuk kategori “Penghargaan Khusus” dan “Tsunami Bertabur Bakau” menjuarai kategori “Film Dokumenter Favorit” pemirsa.
Untuk film Buah yang Menunggu Mati sebagai film yang memenangi penghargaan khusus memperoleh hadiah dari Pemerintah Kerajaan Belanda berupa dana untuk memproduksi sebuah film dokumenter lainnya bertemakan lingkungan. Waaww…bangga banget ma arek-arek Malang yang udah bikin karya menakjubkan.
Salut saya dengan semua muda-mudi yang aktif sebagai peserta dalam ajang pembuatan film dokumenter tersebut. Dengan semua jerih payah, pengorbanan, dan kreatifitas, mereka mampu menghasilkan suatu karya yang bisa diapresiasi oleh semua orang terutama dalam menjaga lingkungan dan alam sekitar yang mulai sekarat.
Sebagai penutup, dan hanya sekedar ingin berbagi saja, akhir-akhir ini saya lumayan sering melihat program-program yang ada di Metro TV dan saya baru sadar telah mentasbihkan channel TV itu sebagai chanel favorit untuk saat ini ;-).
Dengan tidak sengaja 2 hari berturut-turut minggu kemarin (tgl 15-16 Oktober 2008) saya melihat pemutaran film dokumenter Eagle Award di Metro TV. Setelah dinanti-nanti sekian lama, karena saya sudah mulai mengikuti prosesnya sewaktu audisi, akhirnya ke-5 film dokumenter itu tayang juga. Kenapa Eagle Award kali ini begitu menarik perhatian saya? mungkin karena tema yg diusungnya “Hijau Indonesiaku”, sebuah tema yang penting di era global warming seperti sekarang.
Lima finalis dari seluruh Indonesia berlomba untuk membuat film dokumenter tentang alam dan lingkungan di Indonesia. Tema yang diusung tidak hanya kerusakan alam, banyaknya pencemaran lingkungan, dan penebangan hutan liar, tetapi juga berbagai capaian yang diraih tokoh2 utama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan alam Indonesia.
Dua film dokumenter yang sempat saya liat (sebenernya pengen nonton lima2-nya, tp apa daya selalu lupa jam tayangnya
), judulnya “Tsunami Bertabur Bakau” dan “Buah yang Menunggu Mati”. Khusus untuk film yang berjudul “Buah yang Menunggu Mati” saya sedikit berbangga hati, bukan karena saya kenal dengan finalisnya atau apa, tetapi karena ternyata finalis yang membuat film tersebut berasal dari Jawa Timur (yang notabene propinsi tempat saya tinggal, hehe). Apalagi tema yang diangkat adalah tentang semakin menurunnya hasil produksi Apel Batu di masa sekarang. Batu - Malang - Blitar adalah kota-kota yang berdekatan, paling tidak bisa ditempuh dengan perjalanan 2-3 jam. Semakin bangga saya dengan finalis dan film itu.
Buah yang Menunggu Mati bercerita tentang para petani apel di kota Batu yang mengeluh karena hasil panen mereka yang semakin sedikit karena buah-buah dari pohol apel tersebut banyak yang rusak sebelum bisa dipanen. Setelah diadakan penelitian, diketahui bahwa sumber terjadinya permasalahan tersebut adalah banyaknya pemakaian pupuk-pupuk buatan (pupuk kimia) yang digunakan oleh para petani tanpa memperhatikan kaidah penggunaan dan pemanfaatan secara tepat dan terukur. Hasilnya, kandungan hara tanah di lokasi perkebunan apel menjadi rusak, kering, dan tidak subur lagi, hasil panen apel yang biasanya melimpah-pun ikut menurun produktifitasnya.
Para petani yang bingung dengan kondisi ini, berusaha mencari jalan keluar dari permasalahan. Untunglah ada seorang tokoh di perkebunan apel tersebut yang sadar akan kondisi tersebut dan segera mencari jalan keluar yaitu dengan mengganti pemakaian pupuk kimia (buatan) dengan pupuk alami (organik, kompos). Diharapkan dengan beralihnya mereka ke pupuk alami ini akan mengembalikan tingkat kesuburan tanah perkebunan seperti semula.
Beda lagi dengan film kedua yang saya lihat, berjudul “Tsunami Bertabur Bakau”. Dalam film tersebut diceritakan ada seorang tokoh utama bernama Baba Akong yang sangat peduli lingkungan. Baba Akong selama lebih dari 10 tahun telah berupaya menanam bakau guna meminimalisir terjadinya abrasi bibir pantai di sekitar kepulauan NTT (lokasi tepatnya di Kabupaten mana saya lupa :-p). Kita ketahui bahwa di NTT sering terjadi bencana gempa bumi dan beberapa kali terjadi Tsunami. Kejadian buruk tsunami itu mendorong Baba Akong dengan segenap kekuatannya sendiri berusaha untuk menanam pohon bakau di sepanjang pantai di daerahnya. Hingga saat ini telah 23 hektar tanaman bakau yang tumbuh di sekitar pantai di NTT karena usaha Baba Akong.
Ternyata perjuangan Baba Akong tidak berhenti sampai disitu, setelah hutan bakau tersebut ada, banyak pihak yang ingin memperoleh keuntungan dari hutan bakau tersebut dengan cara-cara yang tidak baik(menebangi bakau secara liar, menembaki burung2 yang migrasi ke hutan bakau, dsb) sehingga berakibat pada ketidakseimbangan ekosistem. Dengan keberaniannya pula, Baba Akong melawan semua ketidakbaikan itu.
Hmm…dari semua review itu, satu yang membuat saya tercengang dan terkagum-kagum dengan orang-orang itu. Adalah dimana saat semua orang tidak pernah berfikir untuk menjaga alam dan lingkungan tempat mereka hidup, saat semua orang hanya bisa merusak tanpa mau menjaga dan memperbaiki, tetapi ada segelintir orang yang ternyata masih peduli. Peduli untuk menyelamatkan alam dan lingkungan dari kerusakan dan kemusnahan, tanpa berfikir untuk mendapat upah atau tanda jasa.
Banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi yang mumpuni, acuh terhadap lingkungan dan kelestariannya, tetapi banyak juga orang yang hanya dengan berbekal tekad kuat tanpa dilandasi pendidikan yang layak mampu untuk berbagi teladan kepada semua orang. Begitu malu saya dengan semua itu. Begitu saya merasa belum berperan sedikitpun dalam menjaga bumi dan seisinya.
Kompetisi semacam Eagle Award selalu membawa banyak pencerahan bagi saya. Tidak hanya di tahun 2008 ini tetapi juga ditahun-tahun kompetisi sebelumnya. Semoga dapat terus diselenggarakan, dan membawa kebaikan untuk semua orang. Chayo Eagle Award!!!
Yay! seneennggg bangeetttt!!! akhirnya film Laskar Pelangi selesai juga dibuat oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Sutradara dan produsernya aja sineas-sineas terbaik di negri ini, 12 orang anggota Laskar Pelangi asli anak-anak dari Belitong, ditambah 12 aktor terkenal yang udah punya jam terbang tinggi, wahh!!benar-benar film yang tidak boleh dilewatkan.
Kata Andrea Hirata sih, kenapa banyak ketakutan penggemar suatu buku ketika buku tersebut akan difilm-kan, karena ternyata masing-masing orang atau individu itu punya film sendiri dalam kepala mereka. Sehingga kadang jika film yang dibuat itu tidak sesuai dengan film dalam imajinasi mereka, maka yang muncul adalah kritik-kritik pedas tanpa dasar yang kuat.
Andrea Hirata sang kreator pun berani mengatakan bahwa skenario yang telah tersusun lebih menggetarkan dan lebih dalam maknanya dibanding novelnya. Nggak tahu juga ya kalo itu bagian juga dari promosi, hahaha!
Yaah..semoga saja “Laskar Pelangi the Movie” tidak akan mengecewakan siapapun, bahkan bisa menjadi satu karya film adaptasi dari novel, yang terbaik yang pernah dibuat. Hmmm…udah ga sabar banget pengen nonton film-nya!
note : kalo mo liat thriller-nya ada di film ini
waahhh, really miss this blog! baca-baca lagi tulisan yang dulu-dulu jadi ketawa-ketiwi sendiri, jd kangen, trs pengen ngisi, tp bingung apa yg mo diceritain ya?hehe
oke, udah di isi, sekian dan terima kasih
Ini hanya sekedar tulisan yang gak penting sebenarnya, tetapi keinginan hati untuk menuliskan di Blog sudah tidak dapat dibedung lagi…;-)
Setelah menyelesaikan membaca novel ketiga-Edensor dari Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata), well, what can i say about this…. satu yang jelas, saya tidak bisa berhenti membaca, saya jatuh cinta dengan setiap kata dan kalimat yang ada dalam ketiga novel tersebut.
Satu definisi tentang ketiga buku dari Laskar Pelangi adalah :
“Membaca 3 buku dari Tetralogi Laskar Pelangi bagi saya seperti membaca “kamus ilmu pengetahuan”, menarik, inspirasional, genius dan menghibur. Seperti memenuhi keinginan saya akan oase novel bermutu tinggi, tanpa embel-embel bahasa sastra tingkat tinggi yang jlimet dan membingungkan (hehe, maap karena pemahaman bahasa sastra tingkat tinggi sangat rendah). Membaca novelnya dari halaman satu ke halaman berikutnya membuat saya tertawa terbahak-bahak, kemudian tiba-tiba terharu dan meneteskan air mata. It’s really worthed to be an master piece!”.
Ada apa dengan umur 27? Apa pentingnya umur 27 bagi seseorang? Sebelumnya saya tidak pernah berfikir ada sesuatu yang penting di umur 27, setelah……ehhmmm……hehehe, setelah saya mendengar salah satu percakapan antara Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti dalam film “3 days to forever”. Tidak bermaksud untuk me-review ulang atau menilai seberapa bagus film tersebut, karena saya tidak pandai bercerita kepada orang lain dan tidak pandai pula menilai kualitas suatu film. Bagi saya semua film yang pernah saya lihat selalu berkesan, walaupun ada sebagian kecil yang benar-benar membuat saya ingat dan berani berkata “oke, it’s truly inspiring movie and U must see it”.
Sudah hampir satu minggu sebenarnya film itu tersimpan dalam hard disk komputer di rumah, tetapi selalu tidak sempat untuk melihat, karena berbagai macam hal. Akhirnya kemarin malam, berhubung ada waktu luang dan nggak lagi ngapa2in (ya iyyalah,hehe), keinginan untuk melihat film itu muncul juga. Oke, dimulailah acara menikmati film bersutradara Riri Riza itu dengan hanya bertemankan segelas moccacino hangat.
Tiga Hari untuk Selamanya atau 3 days to forever, adalah film yang diproduseri oleh Mira Lesmana. Film ini menceritakan perjalanan antara Yusuf (Nicholas) dan Ambar/Bay (Adinia) dari kota Jakarta menuju ke Jogjakarta dalam rangka menghadiri pernikahan kakak Ambar, yaitu Adinda (Inong). Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 hari itu menjadi 3 hari karena berbagai kejadian menarik yang mereka alami. Oke cukup segitu aja ya acara merangkumnya, hehe… sekarang let’s go to the main topic!!!
Sampailah pada bagian penting dari film tersebut, yang bagi saya sendiri merupakan suatu kebetulan yang sangat- sangat kebetulan, duh bingung mengistilahkannya…… Yaitu pada bagian dimana si Yusuf dan Ambar ini terpaksa harus beristirahat dan menginap dalam mobil yang mereka kendarai. Menunggu hingga pagi tiba, dimulailah percakapan-percakapan menarik diantara mereka berdua.
Dalam percakapan itu Yusuf bicara pada Ambar, bahwa diantara atau selama kurun waktu hidup seseorang, ada bagian-bagian umur tertentu yang merupakan umur terpenting dalam hidupnya. Yang pertama adalah ketika seseorang berumur 27 tahun…jeng…jeng….jeng…!!! hehe…mengingat dalam waktu kurang lebih 7 hari ke depan, umur saya akan genap menginjak 27 tahun. Jadi ngerasa kalo film ini pas banget buat saya
Dikatakan Yusuf bahwa saat seseorang berumur 27, dia (seseorang itu) akan mengambil sebuah keputusan penting yang akan merubah hidupnya. Saat dimana pintu-pintu untuknya akan dibuka atau ditutup oleh Allah. Banyak tokoh-tokoh atau artis-artis terkenal yang melakukan atau menerima perubahan penting dalam hidupnya pada saat berumur 27 tahun (tidak perlu saya sebutkan, karena takut kalau dibilang sok tahu, hehe).
Berdasarkan percakapan dalam film itu (terlepas dari bener atau tidak), saya merasakan sesuatu yang aneh dalam diri saya. Menyadari bahwa sebentar lagi saya akan menginjak umur yang bagi sebagian orang merupakan umur terpenting dalam sejarah hidupnya. Ada perasaan sedikit takut, waswas atau apalah itu, tetapi yang jelas umur 27 bagi saya masih merupakan “a big mistery” . Berharap semoga di umur 27 yang sebentar lagi akan datang saya dapat melakukan segala sesuatu dalam hidup dengan yang terbaik. Aminn.
Dikatakan juga oleh Yusuf bahwa bagian umur terpenting lainnya dalam hidup seseorang adalah ketika dia berusia 29 tahun. Tapi alasan untuk ini, menurut saya agak sedikit dipaksakan. Bisa juga sebenarnya disebabkan karena kebutaan saya akan ilmu astronomi/perbintangan atau per-zodiac-an kali yee, hehehe. Beginilah penjelasannya, pada saat seseorang berumur 29 tahun, posisi bumi dengan planet saturnus itu kembali lagi ke posisi yang sama ketika seseorang itu pertama kalinya dilahirkan ke dunia. Dan planet Saturnus adalah planet yang mempengaruhi alam bawah sadar manusia, sehingga hal ini mengakibatkan keluarnya naluri alamiah seseorang secara meledak-ledak. Manusia dipaksa untuk mem-flash back masa lalunya, disadarkan kembali pada semua perbuatan, tindakan, tingkah laku yang pernah dilakukan sebelumnya, hingga hanya bisa menyesali atau mungkin berbangga dengan apa yang telah dilakukannya.
Bagi saya, sebenarnya tidak penting di umur berapa seseorang akan memulai sesuatu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Secepat apapun yang bisa anda lakukan untuk mengubah diri anda menjadi sesuatu yang lebih baik, maka lakukan secepatnya, “do it now, or never!” begitu kira-kira.
Tapi……… sedikit jujur, agak takut juga memang menginjakkan kaki ke tangga umur 27, huhuhuhuhu………
(akhirnya kesampaian juga menulis, setelah nyari ‘mood’ yang ga dapet-dapet)